Review Buku : The Alchemist – Paulo Coelho


And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Santiago adalah seorang gembala yang berpetualang menggembalakan dombanya di seantero Andalusia di Spanyol. Hampir semua tempat di Andalusia telah ia kunjungi. Dia begitu menikmati hidupnya yang bebas, sampai suatu saat dia memimpikan sebuah mimpi yang sama, yang datang secara berturut-turut. Dia kemudian menanyakan arti mimpinya kepada seorang wanita gipsi. Mimpi yang kemudian mengubah hidupnya untuk selamanya. Dia yang awalnya seorang gembala, kemudian menjadi seseorang yang belum pernah ia bayangkan.

The Alchemist

The Alchemist

Buku ini bercerita tentang seseorang yang terus mengikuti kata hatinya. Kata hati yang membimbingnya berpetualang ke daratan Afrika, ke negeri para Pharaoh, kata hati yang kadang pula ia sesali. Buku ini akan menyadarkan kita begitu pentingnya mengikuti kata hati. Sebuah proses untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki, ataupun bisa juga berarti proses yang berujung penyesalah saat kita mengabaikannya. Rate 4.5/ 5.

Detail Buku : The Alchemist (Goodreads)

Review Buku : Marmut Merah Jambu – Radytia Dika


Marmut Merah Jambu. Ini adalah buku Raditya Dika pertama yang saya baca. Sebenernya ini buku udah lama terpajang di rak, namun karena nggak ada waktu, baru kemarinlah saya bisa baca buku ini. Saya hanya butuh dua hari untuk menyelesaikannya.

Menurut saya, buku ini lebih tepat dikatakan sebagai buku hariannya Raditya Dika. Tepatnya, curhatan cerita cinta monyet nya di masa-masa SD sampe yang agak serius saat dia berkarya menjadi seorang penulis. Mulai dari ngejar-ngejar cewek sampe dikejar-kejar cewek. Well, nggak jelek si, isinya lumayan bisa buat saya ketawa-ketiwi sendirian di teras rumah. Rate 3.5/ 5.

Marmut Merah Jambu

Marmut Merah Jambu

Detail Buku : Marmut Merah Jambu (Goodreads)

Review Buku : A Dance With Dragons – George R.R. Martin


Valar Morghulis.

Valar Morghulis

Hai bro, berjumpa lagi dengan saya Teguh Pramono dalam tulisan random saya untuk yang kesekian kalinya. Yup, kali ini saya akan membahas sesuatu yang lain dari biasanya, saya akan me-review buku yang berjudul A Dance With Dragons karya dari George R.R. Martin. Aneh sebenarnya saya menulis review tentang buku, tapi karena buku ini memang keren luar biasa, saya kira tidak akan sia-sia saya bercerita disini. Saya tau buku ini super keren karena setiap saya selesai membaca sebuah chapter, saya pasti berkata (maaf) fuck.

A Dance With Dragons

A Dance With Dragons

Brace Yourself. Winter is Coming“, mungkin anda sudah tidak asing lagi dengan kalimat tersebut. Sekedar info, A Dance with Dragons adalah seri kelima dari seri novel A Song of Ice and Fire. Pendahulu novel ini yaitu : A Game of Thrones, A Clash of Kings, A Storm of Swords dan A Feast for Crows telah sukses menjadi novel best seller yang juga telah di serialisasi dalam bentuk serial televisi dengan judul Game of Thrones yang diproduksi oleh HBO. Novel kelima ini release pada tahun 2011.

Menurut saya, Martin bisa dikatakan sebagai salah seorang maestro fantasi. Mungkin nomor dua di dunia, tepat di belakang J.R.R Tolkien, pengarang dari The Hobbit, The Lord of The Rings, The Silmarillion dan The Children of Hurin yang merupakan novel-novel fantasi terbaik sepanjang masa. Martin sangat ahli dalam menggambarkan duniannya, penggambaran tokoh yang super detail, sejarah, kerajaan, kota, wilayah, klan dengan ciri khasnya masing-masing, dan yang paling bikin geregetan adalah cara penceritaannya yang penuh dengan cliffhanger, yang bertebaran hampir di setiap akhir chapter. Semua itu akan membuat anda tidak bisa berhenti membaca buku setebal 1112 halaman ini.

Cerita masih tidak keluar dari perebutan The Iron Thrones di Seven Kingdom of Westeros. Ratusan nama karakter ikut ambil bagian dalam cerita ini, membuat anda tidak akan mungkin
bisa mengingat namanya satu per satu. Beberapa nama karakter yang mungkin akan bisa anda ingat karena sering muncul antara lain : Jon Snow, Daenerys Targaryen, Barristan Selmy, Tyrion Lannister, Theon Greyjoy, Young Griff dan Quentyn Martell. Hampir setiap karakter memiliki point of veiw nya sendiri-sendiri, sehingga membuat pembaca bisa mengetahui sudut pandang setiap karakter. Di satu sisi kita akan menganggap sebuah karakter sebagai protagonis, hero dan tokoh utama, tapi di lain sisi, karakter tersebut bisa di anggap sebagai pembunuh dan penghianat alias seorang antagonis. Semuanya tidak jelas apakah seorang karakter berada di sisi baik atau di sisi yang jahat, dan karena itulah isi cerita sangat tidak mungkin bisa ditebak. Jangan menangis kalau seandainya karakter favorit anda mati di tengah-tengah cerita.

Di satu sisi saya ingin membaca lanjutan dari setiap chapter-nya, di sisi lain saya tidak ingin menyelesaikannya karena saya tau tidak akan menemukan novel serupa setidaknya sampai The Winds of Winter release di pasaran. Jangan terlalu percaya tulisan saya. We know nothing and words are wind. 😛 See you. Rate 5/ 5.

Daenerys and Drogon in Daznak's Pit

Daenerys and Drogon in Daznak’s Pit

Detail Buku : A Dance With Dragons (Goodreads)
Art : http://cripplesbastardsandbrokenthings.com/